Hampir semua orang senang mendengar lagu. Tak terkecuali anak-anak. Bagi anda yang sudah mempunyai anak, pasti anda sering mengajarkan/memperdengarkan lagu2 kesayangan anak bukan?
Tapi setelah dicermati, ternyata lagu anak-anak yang sering kita ajarkan ke anak, bahkan sudah akrab ditelinga mereka banyak mengandung kesalahan dan menyesatkan, bahkan cenderung menurunkan motivasi dan kreatifitas anak. Coba kita perhatikan petikan syair lagu anak di bawah ini.
1. Balonku ada lima….. rupa-rupa warnanya… merah kuning kelabu… merah muda dan biru… meletus balon hijau , dorrr…!
Analisa: Perhatikan warna kelima balon tersebut. Mengapa tiba-tiba muncul warna hijau..? Jadi jumlah balon seharusnya ada 6, bukan 5
2. Aku seorang kapiten…mempunyai pedang panjang… kalau berjalan prok prok prok…. Ku seorang kapiten
Analisa: Pertama dia menceritakan pedangnya, setelah itu bercerita tentang jalannya. Seharusnya dia tetap konsisten. Jika harus menceritakan jalannya harusnya dia bernyanyi “Mempunyai sepatu baja…” (bukan pedang panjang) Jika ingin cerita tentang pedangnya, harusnya dia bernyanyi “Mempunyai pedang panjang.. kalau berjalan srek..srek..srek.., Itu baru sesuai dengan suara pedang panjang.
3. Bangun tidur kuterus mandi… tidak lupa menggosok gigi… Habis mandi kutolong ibu… membersihkan tempat tidurku
Analisa: Setelah mandi langsung menolong ibu membersihkan tempat tidur. Ini menjadikan anak tidak terprogram secara baik dalam melaksanakan tugasnya. Seharusnya setelah bangun, terlebih dahulu membersihkan tempat tidur.
4. Naik naik ke puncak gunung…. tinggi tingi sekali….kiri kanan kulihat saja… banyak pohon cemara….
Analisa: Anak akan kehilangan konsentrasi dan semangat. Pada awal lagu terkesan sedang mendaki gunung yang tinggi. Tapi setelah melihat jalanan yang semakin menanjak si anak akan bingung, karena selalu menoleh ke kiri dan kanan melulu sehingga tak sampai ke puncak gunung yang dituju.
5. Naik kereta api…. tut…tut..tut… siapa hendak turut… ke Bandung, Surabaya… bolehlah naik dengan percuma… ayo kawanku lekas naik…keretaku tak berhenti lama…
Analisa: Ini mengajarkan anak kalu sudah besar maunya gratis melulu. Pantesan PT. Perumka rugi terus terutama jurusan Bandung dan Surabaya.
6. Di pucuk pohon cemara… burung kutilang berbunyi…. bersiul-siul… sepanjang hari… dengan tak jemu-jemu… mengangguk-angguk sambil berseru… trilili..lili..lilili….
Analisa: Hal ini tidak mengajarkan anak pada realita yang sebenarnya. Kalau burung kutilang bunyinya cuit…cuit…cuit. Kalau trilililili itu manusia yang nyanyi bukan..?
7. Pok ame ame… belalang kupu kupu… siang makan nasi… kalau malam minum susu….
Analisa: Lagu ini sepantasnya untuk orang dewasa. Karena kegiatan di atas cocoknya dilakukan orang dewasa, bukan anak kecil. Anak kecil (bayi) belum boleh makan nasi karena siang dan malam teteeep aja mimi cucu.
Yang lebih parah lagi adalah belalang dan kupu-kupu makanannya daun-daunan bukan nasi dan susu.
8. Nina bobo oh nina bobo… kalau tidak bobo digigit nyamuk
Analisa: Ternyata sudah sekian tahun anak-anak Indonesia diajak tidur dengan lagu yang “mengancam” ini. Si anak ditakut-takuti, karena kalau tidak bobo akan digigit nyamuk. Padahal mau bobo kek.. mau nggak kek… tuh nyamuk teteeep aja menggigit…
9. Cicak cicak di dinding… diam diam merayap…. datang seekor nyamuk …. Hap! Lalu ditangkap
Analisa: Emangnya cicak bisa nangkap…? Kalaupun bisa pasti cicaknya akan jatuh karena nangkap pake tangannya yang biasa dipakai untuk merayap.
10. Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam…. menanam jagung di kebun kita.
Analisa: Kalau mau menanam jagung tak perlu terlalu dalam nyangkulnya. Tapi kalau mau gali sumur, so pasti harus dalam.
11. Bintang kecil di langit yang biru…
Analisa: Bintang di langit akan kelihatan pada malam hari. Langit biru saat pagi hari, sehingga bintangnya tidak akan kelihatan.
12. Pada hari Minggu kuturut ayah ke kota…. Naik delman istimewa kududuk di muka
Analisa: Kalau mau pergi ke kota naik mobil atau motor, bukan naik delman. Kalau ini terjadi di Jakarta maka delmannya akan kena razia. Duduknya pake di muka lagi…. Trus saisnya duduk dimana dong…?
ami berkata,
Februari 24, 2009 @ 6:09 am
hehehe adaaa aja. iya ya menyesatkan tuh, tapi bagusan lah daripada anak diajak nonton sinteron
Desy: Betull mbak Ami, gw jg alergi banget ame nyang namenye sinetron..
Eston Hasian berkata,
Februari 25, 2009 @ 4:19 am
Mantap Ito!, lucu dan mengajari kita untuk teliti serta kritis.
No. 3 sudah di ‘edit’ Ito, Bangun tidur Sitorus mandi…Sianturi mengosok gigi….
Hehehe…Siang makan nasi malam minum susu, cocok untuk orang dewasa ya…
Desy: Ehh… salah ya… siang makan nasi…. kalau malam makan nasi juga rupanya ya…! hehehe….
Mr Bin berkata,
Februari 26, 2009 @ 3:31 am
Boleh juga Ito ,kritis sekali yaa, tapi sotung muruk pencipta nai da! gabe di lelei hita , apalagi nomor 03. kate Eston, klo malam minum cuccu.. mana ada itu!
hahahahah
Desy: Wah ito mr Bin dan ito Eston sangat peka dengan lagu itu yaa…!
G. Meha berkata,
Maret 1, 2009 @ 2:45 pm
Hahaha, siap siaplah bao menerima kritikan dari anak anak. Bisa saja mereka mengkritik lagu lagu kebanggaan kite kite orang dewasa; misalnya: “Padamu Negeri……….jiwa raga kami” dan juga lagu Pemilu: ‘Pilihlah wakilmu yang dapat dipercaya, pengemban ampera yang setia………’ Hahahaha, aku hanya bermisal misal bao.
Desy: Hahahha muse amangbao…. molo tu negeri on do tutu nilehon jiwa raga niba… ba ahabe di dakdanak ate… Memang pusing do iba mambege angka ende2 nuaeng, apalagi maenmu si borpas on… bah.. holan lagu2 cinta nama diendehon.. ido umbahen na sai sogo roha ni abangna tu ibana… maufffsss…
nh18 berkata,
Maret 3, 2009 @ 6:23 am
HUahahaha ..
ini cerita lama …
Tapi entah mengapa … saya selalu cekakakan kalo membacanya lagi
Salam saya
NH18
Desy: Terimakasih atas kunjngannya..
Antoni Pasaribu berkata,
Maret 9, 2009 @ 8:19 pm
Boleh aku berkomentar, nanguda? (pasti langsung ngangguk)
makasih, udah memperbolehkan aku berkomentar
aku udah ada nulis tentang hal perkembangan lagu2 anak Indonesia, tapi belum ku publish di blog aku, nunggu hari ‘anak Nasional’ dulu:-D
well, aku lbh prefer sama lagu2 yg nanguda tulis di atas, DIBANDINGKAN lagu anak2 jaman sekarang.
Lagu2 yg nanguda tulis di atas itu, mungkin ada ‘khas’ tersendiri dalam syairnya. Kita yg udah bukan balita, akan melihat syair itu ke faktor logika/real, tp kl di lihat ke psikologi anak, lbh banyak benarnya syair lagu tsb. Pegang pedang sambil jalan, akan menumbuhkan imajinasi lbh tepat tentang kapiten, tp kl pake sepatu baja lalu jalan prok2, bs2 imajinasi anak malah, jalan sambil bayangin sepatu berat, dan parahnya mungkin, anak2 jd jalan ngangkang dr kecil gara2 bayangin sepatu itu:-D
terlepas dr edukasi logis tidaknya syair tsb, psikologi imajinasi anak dlm mempraktekkan lagu tsb, menurut aku, jauh lbh penting. Krn anak2 akan lbh efektif bljr dlm gerak dan lagu.
Mau ga mau, faktor mengembangkan imajinasi anak, jd perhatian utama dlm lagu anak2. Dulu ada lagu ‘kura2 ninja’, jalanan macet krn si komo lewat, dll. Sebagian besar, syairnya emang ga ada logisnya, krn ada faktor lain yg di dahulukan:-D
Bedanya sama anak2 sekarang : lagunya melewati umur anak itu.
Lihat aja lagu2 di acara kompetisi lagu tingkat anak2 di TV, lagunya…….. Ga tepat…!
Masa anak2 nyanyiin lagu “jadikanlah aku pacarmu(sO7)”, dan lagu2 lain dgn syair yg blm saatnya mereka cerna.
So, mana yg kita pilih??? Hehehehe
kalopun ada lagu anak jaman skrg, kl ga salah, itu ada yg syairnya pake kata ‘kembang perawan’.
Sattabi nanguda, jgn2 ada anak2 yg nanya ke mamanya “mak, perawan itu apa? Bs ngembang ya? Ky kembang ya?” sattabi:-D
itu krn syairnya tll “berat”, ga cocok untuk pola pikir anak2.
Sebenarnya msh puanjaaanggg lg mau ku ketik, nanguda, tp dah cape jariku di hape ini. Sotung sega muse hape sasada ku ala artikel on
so, jgn lupa kritis pada lagu anak2 jaman sekarang, yg jauh lebih ‘tidak mendidik’ untuk anak2 anda:-D
(untung aku blm punya anak…. Hehehehe)
Desy: Nanguda ingat lagu waktu masih kecil, lagu batak jaman dulu: Au sijarajiri naso hea maridi.. tarsor au maridi dapot au pira ni bibi…. tillo..tillo sitara tillo..tillo…., itu termasuk lagu anak gak Tonn..?
Antoni Pasaribu berkata,
Maret 9, 2009 @ 8:28 pm
Btw, tulis jg “didikan ortu yg salah.”, nanguda!!
Contohnya :
“jangan kesitu,nak. ada hantu!!”.
dr kecil di ajarin bhw ada hantu yg punya ‘power’ lebih dr si anak.
“jangan nangis!! Diamlah kau..!! Diammm….!!”
macam mana mau diam??, waktu mamaknya bilang itu, tangan mamaknya tetap mencubit anaknya
ada banyak lg, nanguda.
Ga mau ku tulis,nanguda. Nanti nanguda tersinggung.
Wkwkwkwkwk……. Kabuuurrrr
Desy: Bah… nanguda gak sampe segitunyalah… gak perlu pake jewer atau cubit, cukup dengan bahasa mata… alias di “bollang” hehehhe…. holan dibollang nga monjab be sude pasukan i….
MeL berkata,
April 20, 2009 @ 5:42 am
huahaha.. lucu deh kritikannya. Menarik buat dibahas nih. Boleh ikutan yaa…
Emang kesalahan fatal pada lagu balonku, tapi aku gak setuju sama yang naik delman. Lah dia kan di Jogja dan tahun 80an akhir. boleh dong dia naek delman dan duduk di depan. Sampai sekarang juga masih ada kok anak2 naek delman.
Trus cicak2 kan emang nangkap nyamuk, tapi pake lidahnya.. bukan tangannya
Tentang Pok ame ame… emang anak kecil kalau malem minum cucu kan? aku sih dulu ingetnya waktu masih kecil selalu minum susu sebelom bobok. Nah justru orang dewasa gak minum susu kalo malem??? org dewasa itu minum susu buat sarapan, bkn sebelom bobok.. Unlesss… u’re refering to other stuff.. hihihihi…
Desy: Kekekekke…. seneng banget baca komentar kamu… teliti banget deh..sama seperti aku….
Makasih atas kunjungannya ya…
dwidjo berkata,
Oktober 10, 2009 @ 6:37 am
panjenengan jan kreatif saestu.
kapan kamu buat lagu yang bener dan tidak menyesatkan
aku tunggu lho yang!
Desy: Sek mas… ditakon wae.hehehe
leo berkata,
Oktober 16, 2009 @ 11:20 am
menurut ku keritik mu itu malah buat orang males untuk menciptakan lagu anak lagi… d keritik mulu sich lagu2 nya….
jadi kamu ciptain lagu YANG BENER AJA mba….
Desy: Ntar… tunggu aja di Idola Cilik 3… *bercanda ding!* hehehe ..